Wanita usia antara 25 – 35 tahun sangat rentan menjadi maniak belanja atau berperilaku konsumtif. Karena umumnya mereka sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Ditambah lagi, banyak wanita lajang di usia tersebut, membuat kencenderungan untuk menghabiskan uang demi memenuhi kesenangan pribadi. (Wittasari, 2008).
Wanita yang masih lajang lebih bebas menggunakan pendapatannya dari hasil bekerja dibandingkan dengan wanita bekerja yang sudah menikah, karena wanita yang sudah menikah lebih banyak mempunyai tanggungan untuk rumah tangganya dibandingkan dengan wanita karier yang masih lajang (Nurdjayadi, 2004)
Pada kenyataannya, karena berpikir bahwa mereka bebas untuk membelanjakan uangnya, wanita karier lajang ini menjadi cenderung berperilaku konsumtif. Barang yang dibeli bukan lagi berdasarkan pada apa yang menjadi kebutuhan tetapi lebih kepada kesenangan pribadi. Tindakan ini lama-lama bisa menjadi kompulsif dan tidak rasional.
Tetapi menurut Winardi dan Wirawan (dalam Farida, 2006) selain karena penghasilan, perilaku konsumtif juga dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya karena faktor atau pengaruh dari lingkungan (termasuk lingkungan tempat ia bekerja atau lingkungan keluarga), kendali diri yang rendah, ada juga karena faktor psikologis (salah satunya misalnya konsep diri), dan faktor situasional.
Shihab (dalam Lina & Rasyid, 1997) juga mengatakan bahwa wanita biasanya lebih cenderung berperilaku konsumtif kepada upaya merawat diri, kecantikan, dan mode yang beraneka ragam.
Fashion menjadi daya tarik bagi wanita karier lajang karena fashion berhubungan dengan penampilan dan mode. Karena itu sesuai dengan pendapat Hurlock (1996) yang mengatakan bahwa wanita menyadari penampilan fisik yang menarik sangat membantu statusnya dalam bidang bisnis maupun dalam perkawinan. Karena itu tidak mengherankan jika bagi beberapa wanita, fashion menjadi sangat penting bagi penampilan mereka.
Menurut Vie (2007) fungsi fashion sendiri di masyarakat adalah sebagai nilai sosial dan simbol status, ikon dalam mengekspresikan identitas, juga sebagai gaya hidup.
Karena itu wanita karier lajang yang konsumtif terhadap fashion tidak berpikir panjang atau cenderung boros ketika membeli banyak barang atau produk fashion jika mereka menginginkannya, tanpa melihat apakah barang tersebut adalah suatu kebutuhan atau hanya karena keinginan yang sesaat. Selain itu perilaku konsumtif dapat menimbulkan beberapa dampak negatif, yaitu pola hidup yang boros, kecemburuan sosial bagi mereka yang tidak mampu, tidak bisa menabung, dan adanya kecenderungan untuk tidak memikirkan kebutuhan yang akan datang karena uang yang ada sudah dihabiskan tanpa ada perencanaan yang cermat.
SUMBER :
Farida, I. (2006). Perilaku konsumtif mahasiswa yang indekos. Skripsi (Tidak diterbitkan). Depok: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
Hurlock, E.B. (1996). Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Nurdjajadi D.R. (2004). Pasanganku shopaholic. http://cybertech.cbn.net.id/ cbprtl /common/ptofriend.aspx?x=Love&y=cyberwoman|0|0|9|525
Lina & Rasyid, H. F. (1997). Perilaku konsumtif berdasarkan locus of control pada remaja putri. Jurnal Psikologika. 4, 5-12.
Wittasari, A. Diah. (2008, Oktober 30). Wanita pekerja rentan gila belanja. Kartini, 2230, 68-72.
Vie. (2007). Buy nothing day. Http://burunghantupunya.multyply.com/journal/ item/s/buynothingday
Wanita yang masih lajang lebih bebas menggunakan pendapatannya dari hasil bekerja dibandingkan dengan wanita bekerja yang sudah menikah, karena wanita yang sudah menikah lebih banyak mempunyai tanggungan untuk rumah tangganya dibandingkan dengan wanita karier yang masih lajang (Nurdjayadi, 2004)
Pada kenyataannya, karena berpikir bahwa mereka bebas untuk membelanjakan uangnya, wanita karier lajang ini menjadi cenderung berperilaku konsumtif. Barang yang dibeli bukan lagi berdasarkan pada apa yang menjadi kebutuhan tetapi lebih kepada kesenangan pribadi. Tindakan ini lama-lama bisa menjadi kompulsif dan tidak rasional.
Tetapi menurut Winardi dan Wirawan (dalam Farida, 2006) selain karena penghasilan, perilaku konsumtif juga dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya karena faktor atau pengaruh dari lingkungan (termasuk lingkungan tempat ia bekerja atau lingkungan keluarga), kendali diri yang rendah, ada juga karena faktor psikologis (salah satunya misalnya konsep diri), dan faktor situasional.
Shihab (dalam Lina & Rasyid, 1997) juga mengatakan bahwa wanita biasanya lebih cenderung berperilaku konsumtif kepada upaya merawat diri, kecantikan, dan mode yang beraneka ragam.
Fashion menjadi daya tarik bagi wanita karier lajang karena fashion berhubungan dengan penampilan dan mode. Karena itu sesuai dengan pendapat Hurlock (1996) yang mengatakan bahwa wanita menyadari penampilan fisik yang menarik sangat membantu statusnya dalam bidang bisnis maupun dalam perkawinan. Karena itu tidak mengherankan jika bagi beberapa wanita, fashion menjadi sangat penting bagi penampilan mereka.
Menurut Vie (2007) fungsi fashion sendiri di masyarakat adalah sebagai nilai sosial dan simbol status, ikon dalam mengekspresikan identitas, juga sebagai gaya hidup.
Karena itu wanita karier lajang yang konsumtif terhadap fashion tidak berpikir panjang atau cenderung boros ketika membeli banyak barang atau produk fashion jika mereka menginginkannya, tanpa melihat apakah barang tersebut adalah suatu kebutuhan atau hanya karena keinginan yang sesaat. Selain itu perilaku konsumtif dapat menimbulkan beberapa dampak negatif, yaitu pola hidup yang boros, kecemburuan sosial bagi mereka yang tidak mampu, tidak bisa menabung, dan adanya kecenderungan untuk tidak memikirkan kebutuhan yang akan datang karena uang yang ada sudah dihabiskan tanpa ada perencanaan yang cermat.
SUMBER :
Farida, I. (2006). Perilaku konsumtif mahasiswa yang indekos. Skripsi (Tidak diterbitkan). Depok: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
Hurlock, E.B. (1996). Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Nurdjajadi D.R. (2004). Pasanganku shopaholic. http://cybertech.cbn.net.id/ cbprtl /common/ptofriend.aspx?x=Love&y=cyberwoman|0|0|9|525
Lina & Rasyid, H. F. (1997). Perilaku konsumtif berdasarkan locus of control pada remaja putri. Jurnal Psikologika. 4, 5-12.
Wittasari, A. Diah. (2008, Oktober 30). Wanita pekerja rentan gila belanja. Kartini, 2230, 68-72.
Vie. (2007). Buy nothing day. Http://burunghantupunya.multyply.com/journal/ item/s/buynothingday

Tidak ada komentar:
Posting Komentar